Indonesia
adalah ibu pertiwiku yang kini usianya menginjak 65 tahun, usia yang cukup sepuh bagi seorang ibu. Ibuku ini mestinya duduk tersenyum menatap anak anaknya yang gilang gemilang mencapai kesuksesan, kesejahteraan, dan kemapanan rohani. Mamandang anak yang telah diasuhnya sepanjang hayatnya hidup rukun damai dan tentram sambil menyulam kain untuk sekedar mengisi hari tuanya. Ibu yang bila memanggil, anak-anaknya segera berlarian memenuhi panggilan itu dengan hormat dan taklim menunggu perintah ataupun nasehat. Ibu yang sampai ajal menjemput jiwa anak-anaknya tidak pernah pernah terlalaikan apalagi terlupakan. Ibu yang telah penuh kasih membina dan sudah layak pula
menerima kasih sayang dari anak-anaknya sebagai balas budi. Ibu yang bahagia, selalu senyum menentramkan di hari tuanya.
Hari ini Selasa, 17 agustus 2010. Hari yang mestinya aku banggakan dengan perayaan kemerdekaan ibu pertiwiku Republik Indonesia ternyata begitu hambar terasa. “Cemplang” dilidah. Merah putih tidak berkibar dengan layaknya menyambut perayaan, Angin seperti enggan berhembus memberi semangat, lunglai memeluk tiang berkarat. Ibu maafkan anakmu yang kehilangan nurani membiarkanmu terlunta-lunta dan terhinakan. Maafkan anakmu yang tidak mampu mendongak perkasa seperti para pahlawan, yang lantang berteriak merdeka atau mati.
“Berani mati demi kemerdekaan bangsa” bagai kalimat yang terucap dari negeri antah berantah. Karena yang aku lihat adalah pernyataan “Berani hidup demi kemerdekaan diri dan kelompoknya” dengan meminta rumah aspirasi dengan beaya bermilyar-milyar. Meminta segala kebutuhan hidup mewah sementara pekerjaan mereka hanya numpang tidur di gedung wakil rakyat. Janji-janji muluk lalu pergi berharap orang lain memenuhi janjinya.
Ibu maafkan kami yang membiarkan tangis bayi karena kekurangan gizi, tangis ibu meratapi melambungnya harga kebutuhan hidup, tangis para sarjana yang tidak memiliki koneksi sehingga menganggur, tangis ibu melepas anaknya menjadi budak dinegeri jiran, tangis rakyat jelata yang meratapi penderitaannya. Maafkan aku ibu, aku kehabisan kata…
