Saya masih sangat bodoh dalam hal agama dan keTuhanan, meski banyak bertanya dan belajar keorang sekitar yang lebih pintar. . Mesti banyaak bergaul dan duduk satu majelis (nongkrong bareng) dengan orang arif dan bijaksana.Yang memiliki kesantunan dan keluhuran budipekerti. Walaupun hanya setetes pemahaman yang saya miliki sudah membuat gundah rasa dan penalaranku. Karena kurangnya pemahaman saya, maka sayapun berandai-andai. Seandainya cara berpakaian yang benar seperti gambar ini dan sebagai syarat masuk sorga serta memperoleh keridhoan Allah, betapa banyak gadis dan perempuan yang celaka.
Pernahkan Agan/aganwati nonton acara pentas musik seperti dahsyat, inbox, hip hura-hura, atau sejenisnya? Yang biasanya diadakan ditempat terbuka seperti lapangan parkir di sebuah mall atau pusat perbelanjaan dan ditayangkan ditelevisi secara “live”. Tentu pernah, ya minimal nonton sekilas acara tersebut di TV. Tapi pernahkan agan memperhatikan para penontonya yang sebagian besar remaja tanggung (ABG). Kalau belum pernah mungkin ada baiknya sekali waktu coba perhatikan mereka, mulai dari perilakunya aktivitas setelah bubar acaranya daan bagaimana pulangnya mereka kerumah masing-masing.
Entah saya sudah termasuk makhluk kedaluwarsa atau kuno atau ketinggalan jaman atau kuper dan istilah sejenisnya. tapi saya merasa NGERI dengan trend seperti ini dengan MASA DEPAN anak-anak muda (red:saya memang sudah tuwir kok gan). Sekedar cerita ya kenapa saya merasa terganggu ingatan dan pikiran melihat fenomena ini:
- kadang acara tersebut diadakan bukan pada hari libur. Anak-anak abg ini apakah tidak pada sekolah ya?? kok pagi-pagi sempet pada nonton dan berjingkrak-jingkrak di depan panggung. Kalau anak ini membolos, siapa yang pantas bertanggung jawab? Guru disekolah, atau panitia/Event Organizernya. Terus bagaimana kehidupan pembelajaran anak tersebut
- Sihir sang artis, yang telah menghipnotis penonton muda lupa diri. Perhatikan deh, tampang saya perhatikan anak-anak ini jauuuuuh dari kategori cantik atau tampan. Jingkrak-jingkrak bagai selebritisnya. rambut terburai acak-acakan, kaos ketat nempel dikulit.Aduh gan,bukan jadi seneng tapi malah seneb (perut kembung gak jelas). Apa mereka mimpi jadi artis ya?
- Suatu ketika pas hujan. Coba agan bayangin anak perempuan memakai kaos tipis warna putih terus kehujanan. Masih berjoget-joget gak jelas irama dibawah guyuran air hujan. Puyeng gak lihat tampilan seperti ini? Apa gak bikin remaja disekitarnya pada nafsu?. Aduuh ampiuun.
- Anehnya, setelah selesai mereka yang tadi jingkrak-jingkrak pulang pada jalan kaki. Waduh…? saya pikir pada naik mobil atau minimal motor. Menurut saya aneh… kok jalan kaki. bahkan saya pernah temuin sekelompok remaja tanggung berpakaian kaos hitam kumal berjalan sampai lebih dari 7 km menuju rumahnya. Apa yang ada dipiran anak ini ya? Entah sengaja atau tidak punya uang.
Tolong gan, yang ngerti tentang budaya, sosial, ataupun psikologi masyarakat, cerita dong.Fenomena apa yang sedang terjadi di masyarakat ini. Kenapa hal-hal seperti ini, maksudnya nonton inbox, konser, nonton bola lebih penting dari pada membantu orangtua mereka atau mengerjakan sesuatu yang bermanfaat buat masa depan mereka. Ayo gan cerita ya…!!!
Indonesia
adalah ibu pertiwiku yang kini usianya menginjak 65 tahun, usia yang cukup sepuh bagi seorang ibu. Ibuku ini mestinya duduk tersenyum menatap anak anaknya yang gilang gemilang mencapai kesuksesan, kesejahteraan, dan kemapanan rohani. Mamandang anak yang telah diasuhnya sepanjang hayatnya hidup rukun damai dan tentram sambil menyulam kain untuk sekedar mengisi hari tuanya. Ibu yang bila memanggil, anak-anaknya segera berlarian memenuhi panggilan itu dengan hormat dan taklim menunggu perintah ataupun nasehat. Ibu yang sampai ajal menjemput jiwa anak-anaknya tidak pernah pernah terlalaikan apalagi terlupakan. Ibu yang telah penuh kasih membina dan sudah layak pula
menerima kasih sayang dari anak-anaknya sebagai balas budi. Ibu yang bahagia, selalu senyum menentramkan di hari tuanya.
Hari ini Selasa, 17 agustus 2010. Hari yang mestinya aku banggakan dengan perayaan kemerdekaan ibu pertiwiku Republik Indonesia ternyata begitu hambar terasa. “Cemplang” dilidah. Merah putih tidak berkibar dengan layaknya menyambut perayaan, Angin seperti enggan berhembus memberi semangat, lunglai memeluk tiang berkarat. Ibu maafkan anakmu yang kehilangan nurani membiarkanmu terlunta-lunta dan terhinakan. Maafkan anakmu yang tidak mampu mendongak perkasa seperti para pahlawan, yang lantang berteriak merdeka atau mati.
“Berani mati demi kemerdekaan bangsa” bagai kalimat yang terucap dari negeri antah berantah. Karena yang aku lihat adalah pernyataan “Berani hidup demi kemerdekaan diri dan kelompoknya” dengan meminta rumah aspirasi dengan beaya bermilyar-milyar. Meminta segala kebutuhan hidup mewah sementara pekerjaan mereka hanya numpang tidur di gedung wakil rakyat. Janji-janji muluk lalu pergi berharap orang lain memenuhi janjinya.
Ibu maafkan kami yang membiarkan tangis bayi karena kekurangan gizi, tangis ibu meratapi melambungnya harga kebutuhan hidup, tangis para sarjana yang tidak memiliki koneksi sehingga menganggur, tangis ibu melepas anaknya menjadi budak dinegeri jiran, tangis rakyat jelata yang meratapi penderitaannya. Maafkan aku ibu, aku kehabisan kata…
Softlens
ini cerita ketika saya membeli bakso dipinggir jalan raya ciledug-pondok aren. Ketika itu istriku memesan bakso bakwan khas malang jawa timur, maka demi cintaku padanya aku mampir di warung bakso langganan kami. bukan masalah bakso yang mengganjal perasaanku tetapi bersamaan denganku ada seorang gadis remaja yang juga sedang menunggu bakso pesanannya.
Gadis dengan perawakan agak kecil dengan tinggi kurang dari 150 cm disebelahku inilah yang mencuri perhatianku. Bukan karena kecantikannya atau warna kulitnya yang menarik. secara umum penampilanya, postur tubuhnya, atau
baju yang dikenakanya tidak ada yang luar biasa. Yang menjadi pemikiranku adalah gadis ini memakai “softlens”. Luar biasa, pikirku. Softlens ini sebagai alat bantu penglihatan ataukan sekedar untuk tampil bergaya ….seperti artis-artis atau model biar kelihatan seperti keturunan “indo”. Dugaanku adalah yang kedua, yaitu sekedar untuk bergaya agar tampil lebih “keren” dan menarik perhatian. Memakai aksesoris untuk memacak diri agar lebih terlihat cantik tentu baik. tetapi dari pakaian yang dikenakan, sendal jepit, celana dan kaos yang kusam, rambut yang sudah seharusnya
dikeramas, kulit lengannya yang menandakan kurang minum dan serat, menurut saya ada yang salah dengan softlens yang dikenakannya. Softlens yang menurut perkiraanku minimal berharga Rp.150.000 tentu bukan hal yang “urgent” bila alasanya adalah mode. Barangkali lebih penting membeli pakaian baru atau memenuhi gizi bahkan mengganti
sendalnya agar tidak seperti sedang kekamar mandi. Lantas timbulah prasangka negatifku korban modekah dia?
Rupanya memakai softlens sudah menjadi mode karena di waktu yang berbeda aku menjumpai beberapa gadis sedang mencoba softlens ditoko kacamata di lantai 2 CBD Ciledug. Bahkan ada satu anak sekolah yang menyembunyikan mukanya dari pandangan perhatian saya karena dia memakai softlens. Korban mode juga rupanya??? semoga tidak demikian melainkan karena kebutuhan sebagai alat bantu penglihatanya.




