Memandang Jalanan dan Pendidikan Anak Bangsa 2007.
–mas.ojrat—22-11-2007
Seorang ayah berjalan beriringan dengan anaknya yang masih lugu. Senyum merekah dibibir kedua insan ini dengan cerita hati yang berbeda tetapi satu harapan. Dihati sang ayah berharap anaknya harus lebih baik dari dirinya, berakhlak dan budi yang mulia dan berilmu tinggi sehingga memiliki masa depan yang cerah. Terngiang kalimat-kalimat penuh harap pada buah hatinya ” besok ayah akan mengantar kamu mendaftar sekolah agar ketika besar nanti kamu bisa seperti pak SBY yang gagah atau pak Habibi yang hightech, nanti kamu akan diajar oleh guru-guru yang baik budi dan berilmu tinggi, belajar yang rajin”.
Anak yang polos dalam ketulusan budinya berharap memperoleh suasana baru yang mengantarkan diri ke masa depan yang mulia akhlak dan tinggi martabatnya.
Harapan yang wajar….
Tidak, ternyata harapan itu terlalu besar untuk bisa diperoleh dari sebuah lembaga yang namanya sekolah. Sekolah bukan tumpuan pembinaan dan pembelajaran anak-anak. Orang tua tidak seharusnya menyerahkan sepenuhnya pembinaan anak-anak mereka kepada para guru disekolah. Bimbingan guru hanya lebih kurang 6 jam, dari jam 7 pagi hingga 13 siang.
Kepada siapa anak-anak belajar sepulang sekolah?
Kepada counter koran yang dilewatinya melalui gambar yang terlihat di outlet, artis dengan baju sepotongnya, anak band dengan tampang nyentriknya, kriminalitas dari koran yang terbaca olehnya, atau dari teriakan sumpah serapah sopir angkot diterminal, dari bebasnya anak jalanan, dari pengamen diperempatan lampu merah. Dari gemerlapnya sinetron yang meninabobokkan, pestapora live di TV sepanjang hari. Dan masih banyak lagi yang dipelajari anak secara tidak langsung dari masyarakat luar sekolah.
Jadi jangan berharap terlalu banyak kepada guru-guru di sekolah. Kesempatan belajar disekolah hanya ¼ dari seluruh waktu selama sehari semalam (24 jam) dan selebihnya anak belajar dimasyarakatnya dan di keluarganya.
Jadi kepada siapa orang tua berharap? ¼ nya kepada para pendidik disekolah. ¾ nya ya kepada orang tua itu sendiri dan masyarakat. Loh kok gitu. Ya iya lah..! Orang tua seharusnya memberikan basic pendidikan yang baik untuk anak-anaknya dengan contoh dalam keseharianya.
Dan selebihnya kepada masyarakat sekitar kita berada. Bagaimana caranya? Loh bukankah masyarakat adalah sekumpulan orang yang terorganisasi dengan pemerintah dan negara sebagai wadahnya. Jadi kepada pemerintah kita bertumpu. Maksudnya? Bila kita berkeinginan anak-anak berpakaian sopan, buat aturan tentang larangan pronografi. Kendalikan tayangngan televisi, dominankan yang bersifat mendidik. Dan masih banyak aturan dan konsekuensi yang bisa dilakukan pemerintah untuk mengendalikan rakyat dan bangsanya. Biayai pendidikan dengan besar-besaran agar 20 tahun kedepan ada perubahan terhadap kebaikan bangsa ini. Kok pemerintah yang jadi tumpuan? Ya memang kan pemerintah dibentuk dan dipilih untuk memerintah rakyat menjadi baik dan sejahtera. Tinggal perintah kan ? perintahkan aparat untuk disiplin dan jangan korupsi! Bila melanggar ya tangkap dan pecat lalu penjarakan. Perintahkan berpakaian sopan dimuka umum, bila melanggar ya tangkap dan penjarakan. Apalagi yang foto bugil meskipun dengan alasan seni, ya tangkap dan penjarakan. Gampang khan.
Ya memang tidak mudah mendidik anak, tapi jangan lelah. Yok … bersama-sama dan ajak-ajak saya mengurangi kemerosotan moral dan etika melalui pendidikan.